Mitos Kontemporer Menurut Roland Barthes

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas)

JurnalPost.com – Roland Barthes mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan kapitalisme modern yang memproduksi budaya media massa dan budaya populer telah membawa kita pada masalah mitologis. Yaitu bekerjanya tanda secara konotatif yang tidak hanya memperkaya pemaknaan kita terhadap kehidupan tetapi juga terkadang menguntungkan kapitalisme yang eksploitatif.

Roland Barthes lahir pada tanggal 12 November 1915 di Cherbourg, di pantai barat laut Prancis. Barthes hidup miskin bersama ibunya saat masih muda. Tragisnya, Barthes menderita tuberkulosis pada masa remajanya dan semakin kronis selama hidupnya.

Ia belajar di Universitas Paris pada usi dua puluhan dan mempelajari bahasa Yunani dan Latin, serta terlibat dalam kelompok teater. Ia meraih gelar Sastra Klasik dari Universitas Paris pada tahun 1939 di usia dua puluh empat tahun. Empat tahun kemudian, Barthes kembali meraih gelar dalam bidang kajian Bahasa dan Filsafat dari Universitas Paris pada tahun 1943 di usia dua puluh delapan.

Barthes pernah mengajar di Turki dan Mesir. Di sana, Barthes melihat langsung proses kolonialisme yang menjijikkan. Pada tahun 1950-an, Barthes mulai berkenalan dengan teori linguistik Saussure yang menginspirasinya untuk menulis tentang berbagai topik dalam bidang linguistik.

Roland Barthes mengembangkan semiotika mitos kontemporer dan semiotika fashion sebagai ciri Kota Paris. Pada akhir tahun 1960-an, Barthes mengubah pandangannya dan mengadvokasi kedudukan sastra yang lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan, sebuah posisi yang sejalan dengan Jacques Lacan dalam hal ini. Ia mulai mengembangkan pandangan yang lebih bersifat post-strukturalis.

Barthes pun menjadi intelektual besar dan banyak dipengaruhi oeh Michel Foucault. Pada akhir karirnya, pada tahun 1976, Barthes diangkat sebagai Profesor Semiotika Sastra di Collège de France. Ia memberikan kuliah selamat empat tahun di sana jelang kematiannya pada tanggal 26 Maret 1980 di usia enam puluh lima tahun (Wicks, 2009).

Mitos Kontemporer Menurut Barthes

Roland Barthes belajar dari pakar linguistik struktural Prancis, Ferdinand de Saussure. Pemikiran Saussure juga mempengaruhi metode strukturalisme Levi-Strauss dalam antropologi ketika mendiskusikan mitos dan juga berkontribus terhadap psikoanalisis Lacan.

Salah satu fokus analisis Barthes terhadap pemikiran Saussure adalah aspek arbitrer dari tanda dan implikasinya yang berkembang menjadi klaim dominan dari tanda yang bersifat oposisi biner. Sedang dari Lacan, Barthes belajar melihat fenomena psikologis seperti mimpi dan berbagai gejala gangguan mental yang dapat dimengerti sebagai bentuk-bentuk linguistik yang dapat diinterpretasi.

Baca Juga  BMH Sumut dan Pos Dai Gelar Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Di Medan

Pemahaman Lacan tentang mimpi dan gejala sebagai metafora merupakan salah satu cara khusus di mana ia menerapkan teori linguistik Saussure ke dalam psikoanalisis. Namun, pandangan Lacan dapat digeneralisasikan bahwa jika kita dapat menginterpretasikan mimpi dan gejala psikologis sebagai fenomena yang terstruktur secara linguistik misalnya sebagai jenis metafora dan metonimi dan jika fenomena budaya juga merupakan fenomena yang terstruktur secara linguistik, maka kita dapat memahami berbagai fenomena budaya seolah-olah kita menginterpretasikannya sebagai teks sastra menuju pemahaman makna yang mendasar atau tak sadar seolah-olah kita menginterpretasikan sebuah mimpi.

Menurut metode ini, kita dapat mengungkap apa yang dapat disebut sebagai makna tak sadar dari bentuk-bentuk budaya. Analisis struktural dapat mengungkap aspek-aspek budaya kita yang sebelumnya tidak diakui dengan cara eksplisit atau sadar. Inilah proyek semiologi Roland Barthes yang senada dengan strukturalisme Saussure. Barthes menggunakannya untuk membaca tanda-tanda budaya seperti pakaian dan ikon media dari budaya kontemporer.

Namun, Barthes memperluas metode strukturalisnya untuk mencakup beragam fenomena budaya misalnya sistem mode, sistem ikon budaya, sistem makanan, sistem arsitektur yang Barthes pahami sebagai sistem semiologis. Sebagai contoh analisis strukturalis Barthes dan kritik budayanya, kita akan mempertimbangkan cara kontemporer Barthes dalam memahami mitologi yang berbeda dari makna mitos Lévi-Strauss dalam antropologi.

Buku Barthes, Mythologies (1957), sebuah buku yang juga terinspirasi oleh gagasan-gagasan Marxis dan menggunakan terminologi Marxis berfokus pada mitos dalam masyarakat kita yang memberikan analisis dengan mengungkapkan ekspresi mitos sebagai alat ideologis dari sistem kapitalis borjuis yang berlaku.

Dengan mengasumsikan bahwa fenomena sosial memiliki dasar linguistik, ia menyatakan bahwa mitos adalah jenis ucapan di mana apa yang dianggap sebagai ucapan diberi makna secara luas. Ucapan menurut Barthez dapat terdiri dari mode tulisan atau representasi, bukan hanya ucapan tertulis, tetapi juga fotografi, sinema, laporan, olahraga, pertunjukan, iklan, semuanya ini dapat berfungsi sebagai pendukung untuk ucapan mitos.

Mitos tidak dapat didefinisikan baik oleh objeknya maupun oleh materinya karena materi apa pun dapat sewenang-wenang diberi makna. Anak panah yang digunakan untuk menandakan sebuah tantangan juga merupakan jenis ucapan. Dalam analisis semiologis Barthes tentang pemikiran mitos kontemporer, ia menerima teori linguistik Saussure, tetapi memberikannya penyempurnaan khusus.

Baca Juga  Peneliti China temukan senyawa dari limbah bunga matahari yang mampu cegah pembusukan buah

Barthes mengklaim bahwa mitos kontemporer dibangun dari penanda yang sudah ada. Namun, Barthes berpendapat bahwa hasil mitos membentuk sistem semiologis tingkat kedua. Misalnya, kita dapat memiliki kata-gambar wine sebagi penanda yang mengartikan konsep wine sebagai sekadar minuman pada pemaknaan tingkat pertama. Namun, dalam bahasa mitologi tingkat kedua, konsep wine menjadi penanda untuk minuman berkelas dan gaya hidup kaum elit borjuis.

Analisis Barthes tentang makna mitologi menjadi hubungan antara penanda tingkat pertama dan yang diartikan tingkat kedua identik dengan pemahaman Freud dan Lacan tentang mimpi memiliki konten manifest pada tingkat pertama dan konten latent pada tingkat kedua.

Analisis Barthes tidak menunjukkan kompleksitas struktural yang ada misalnya dalam beberapa analisis mitos suku oleh Lévi-Strauss. Ini merupakan konsekuensi dari minat politik dan pemahaman umum Barthes yang berbeda dari minat teoretis antropologis dalam memfokuskan pemikiran mitos. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi beberapa fitur negatif dari mitos sehari-hari yang dapat kita kenali dengan mudah dan mengungkap pesan implisit atau bawah sadar mereka, serta menggunakan pengungkapan ini sebagai dasar untuk mengkritik konservatisme politik.

Dalam deskripsinya tentang anggur sebagai gambaran mitologi minuman berkelas, Barthes tidak ragu-ragu untuk menambahkan bahwa isi mitos modern sering mendukung sistem kapitalisme yang ada. Mitologi anggur sebenarnya dapat membantu kita memahami ambiguitas yang biasa dalam kehidupan sehari-hari kita.

Karena memang benar bahwa anggur adalah minuman yang baik, tetapi produksinya sangat mendukung kapitalisme Prancis di mana ada realitas ekspolitatif oleh kapitalis/pengusaha anggur terhadap warga muslim di Aljazair yang dipaksa untuk menanam anggur sementara mereka membutuhkan gandum untuk membuat roti.

Alhasil, Roland Barthes memperkaya cakrawala pemikiran dan pemaknaan kita terhadap budaya kotemporer untuk menganalisis berbagai mitologi yang dilahirkan oleh kapitalisme mutakhir yang terkadang sekadar wujud dari kreativitas semiotika manusia atau cara lain untuk membuat manusia modern semakin teralienasi dan tereksploitasi tanpa sadar.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *