Merayakan Ramadhan dan Nyepi Bersama-sama

Penulis: Novania Tiara Putri

JurnalPost.com – Pada hari Senin 11 maret 2024 Hari Raya Nyepi jatuh bersamaan dengan sebagian umat muslim yang mulai berpuasa khususnya pengikut Muhammadiyah. Majelis Tarjih Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah telah memberitahukan awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Senin, 11 Maret 2024. Sementara Minggu, 10 Maret 2024 pemerintah baru akan menggelar sidang isbat penentuan awal ramadhan. Dengan sidang tersebut akan diputuskan awal puasa Ramadhan tahun ini. Dalam momen tersebut menyampaikan pesan toleransi yang mendalam bagi masyarakat Indonesia yang dikenal religius.

Kementerian Dalam Negeri Dukcapil mencatat jumlah umat Islam mencapai 236,53 juta jiwa, atau sekitar 86 persen. Sedangkan penduduk dengan agama Hindu terdapat 4,67 juta jiwa, atau 1,71 persen. Tetapi pada perbedaan jumlah pemeluk kedua agama tersebut tidak menjadi kontroversi di momen Nyepi dan 1 Ramadhan 1445 H yang terjadi bersamaan. Semangat toleransi justru dapat terlihat di antara umat muslim dan Hindu. Sangat penting untuk kita menjaga toleransi antar umat beragama dalam menjalankan ibadahnya masing-masing . Karena keberagaman beragama adalah kekayaan bangsa yang wajib dijaga.

Perayaan hari besar keagamaan penting jatuh pada hari yang sama ini jarang terjadi, dikarenakan bulan suci Ramadhan yang tanggalnya bergeser setiap tahunnya menurut penanggalan kalender Islam, seperti halnya juga Nyepi yang biasanya dilaksanakan saat bulan Maret namun pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya karena menganut kalender Saka Hindu.
Ramadhan tahun ini, bersamaan dengan tahun 1445 dalam almanak Hijriah, adalah momen bagi umat muslim untuk tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi dianjurkan untuk secara intensif memperdalam keimanan dan spiritualitas. Seiringan dengan hal itu, puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan lainnya juga mengajarkan kesalehan-kesalehan sosial. Menurut kalender Bali, Tahun Baru Saka 1946 jatuh pada tanggal 11 Maret ini.

Baca Juga  Mengenal Tugas hingga Kewajiban Bawaslu

Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti keheningan atau sunyi dan masyarakat Hindu berhenti dari segala jenis kegiatan di hari yang suci ini. Selain melantunkan mantra dan doa. Warga menutup diri untuk tidak melakukan apa pun selain bermeditasi dan berdoa kepada sang pencipta.

Bali seperti mengisolasikan diri dari huru-hara dunia. Tidak ada kopromi. Walaupun Nyepi merupakan ritual keagamaan, namun pemeluk agama lain harus beradaptasi dengan keadaan. Jika mengganggu ataupun melanggar pasti akan berhadapan dengan para pecalang yang melanggar adat istiadat dengan tegas. Masyarakat Hindu Bali bisa dengan sangat khidmat dan khusyuk melakukan kontemplasi dan perenungan jiwa untuk menghayati makna dari kehidupan.

Ada empat tahapan perayaan Nyepi. Yaitu, melasti, tawur agung, nyepi dan ngembak geni. Umat Hindu merayakan setiap tahapan dengan khidmat karena memiliki makna filosofis yang mendalam.

Melasti: Acara ini berlangsung di pantai atau perairan. Dimana mereka membawa persembahan, artefak dan benda fisik yang harus disucikan. Tubuh pun harus disiram dengan air suci agar segala kotoran dan pengaruh jahat hilang dan larut oleh air suci.

Tawur Agung: Upacara ini bertujuan untuk membersihkan alam semesta dari kekuatan jahat dan keburukan, serta sebagai persiapan untuk menyambut tahun baru Saka yang baru. Tawur Agung biasanya dilakukan di pura (kuil) yang dipimpin oleh para pendeta dan dilakukan dengan berbagai ritual, termasuk persembahan dan pembakaran patung ogoh-ogoh yang melambangkan kekuatan jahat.

Nyepi: Puncak upacaranya. Terdapat empat pantangan dalam nyepi. Yaitu, amati karya (diam dan tidak melakukan pekerjaan duniawi), amati gni (tidak menyalakan api), amati lelungaan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Ngembak geni: Setelah ritual nyepi dilakukan maka diperbolehkan berbuka puasa, melangkahi pantangan untuk menyantap makanan dan minuman serta bepergian keluar rumah.
Dengan semangat introspeksi, sikap untuk saling menghormati sangat penting karena adanya perbedaan ekspresi keberagamaan. Perayaan Nyepi membutuhkan keheningan, sementara giat mengisi Ramadhan, sarat dengan ekspresi syiar (keramaian).

Baca Juga  Menggali Tapak Bias Gender Dalam Cerpen digital “Buaian Rahim Patriarki”

Dengan menyatukan Ramadhan dan Hari Nyepi dalam satu momen adalah kedempatan unik untuk mengeksplorasi kedalaman spiritualitas. Kedua tradisi tersebut menawarkan kesempatan kepada manusia untuk merenung, memperdalam makna hidup, dan meningkatkan hubungan dengan diri sendiri dan Tuhan. Keduanya memiliki kesamaan yaitu mengajarkan nilai-nilai kesabaran, introspeksi, dan perdamaian batin. Kita mendapatkan manfaat dari keseragaman ini dengan memanfaatkannya untuk memperkuat ikatan komunitas, merayakan keberagaman budaya, dan meningkatkan pemahaman antaragama. Hal ini menekankan pentingnya dialog antar agama dan membangun kedamaian dalam keberagaman sebagai bagian dari perjalanan spiritual kita.

Sekali lagi Nyepi, Tahun Baru Caka 1946 dan 1 Ramadhan 1445 H bersatu untuk memperkuat keberagaman. Partisipasi aktif masyarakat dalam penerapan toleransi merupakan modal berharga untuk membangun masa depan yang inklusif.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *