Mengenal 4 Macam Pola Asuh: Ciri-ciri, Dampak, dan Mana yang Paling Efektif

Credit by Canva

JurnalPost.com – Anak membangun sebuah hubungan sosial pertama kali dari lingkungan keluarganya. Dinamika hubungan antara anak dan orangtua dimasa pertumbuhan akan membentuk perilaku dan karakter anak tersebut dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, orangtua perlu mengetahui pola asuh yang efektif agar anak tumbuh dengan baik dan membentuk pola interaksi sosial yang sehat saat ia dewasa.

Sebelum membahas inti dari topik, perlu diketahui apa makna dari pola asuh. Pola asuh adalah metode pengasuhan yang digunakan orangtua agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang dewasa secara sosial (Santrock, 2002). Pengasuhan merupakan proses atau cara mengasuh, dan mengasuh dalam kbbi berasal dari turunan kata asuh yang dapat diartikan sebagai merawat dan mendidik. Lalu, apakah pola asuh dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan anak? Bagaimana peran orangtua yang sesungguhnya dalam mengasuh anak?

Menurut John W. Santrock, seorang pakar psikologi perkembangan, pola asuh memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak. Anak yang tumbuh dengan pola asuh yang tepat akan memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dari anak lainnya. Tentu, hal ini dapat memengaruhi prestasi anak disekolah. Orangtua pastinya menginginkan anak-anak tumbuh menjadi individu yang sukses. Maka dari itu, perlu adanya pola asuh yang tepat dari orangtua. Berikut, kenali 4 macam pola asuh berdasarkan gabungan warmth (kehangatan) dan control (kendali).

1. Pola asuh otoriter (Authoritarian Parenting)
Pola asuh otoriter merupakan metode pengasuhan yang membatasi sekaligus menuntut anak patuh pada aturan yang sudah ditetapkan. Bila anak melanggar, orangtua dengan pola asuh otoriter tidak segan memberikan hukuman tanpa mendengarkan penjelasan anaknya. Selain itu, anak juga kurang diberikan ruang untuk menyampaikan pendapatnya.

Ciri-ciri orang tua dengan pola asuh otoriter:
• Menghukum anak jika tidak sesuai dengan keiinginannya. Biasanya menggunakan hukuman fisik. Orangtua juga tidak memberikan alasan yang jelas dari tindakan menghukumnya.
• Banyak menuntut dan memaksa anak menuruti perintahnya tanpa memberi kesempatan bagi si anak mengeksplorasi atau mengembangkan bakatnya.
• Cenderung bersikap kaku dan kurang simpatik. Orangtua dengan pola asuh otoriter umumnya tidak akrab dengan anaknya.
• Kurang kehangatan dan lebih mengendalikan.

Pola asuh ini sering digunakan oleh orangtua zaman dahulu karena dianggap efektif untuk mendisiplinkan anak. Mereka berpendapat bahwa memberikan kebebasan akan membuat anak mempunyai perilaku yang buruk dan tidak diinginkan. Padahal, pola asuh ini bisa saja memberikan pengaruh yang negatif pada perkembangan anak. Apa saja dampak yang mungkin terjadi pada anak dengan pola asuh otoriter?

• Anak menjadi kurang mandiri dan sulit mengambil keputusan, karena anak terbiasa diarahkan oleh orangtuanya.
• Sulit berinteraksi dengan teman sebaya. Anak mungkin terlalu dibatasi, sehingga anak kesulitan memahami dan menilai karakter orang lain.
• Memiliki harga diri rendah. Terjadi karena anak kurang diberikan penghargaan atau apresiasi atas capaian yang sudah didapatkan. Orangtua dengan pola asuh otoriter terlalu fokus pada kekurangan atau kesalahan anaknya.
• Cenderung agresi. Ini merupakan bentuk frustasi atau ketidakpuasan anak. Kurangnya komunikasi yang efektif dari orangtua dengan pola asuh otoriter, seperti menggunakan hukuman atau ancaman untuk mengontrol perilaku menjadi salah satu alasan kenapa anak berperilaku agresif. Anak yang tumbuh dari orangtua dengan pola asuh otoriter juga kurang terampil dalam mengendalikan emosi dan rasa kekecawaan, sehingga anak mengekspresikannya dengan perilaku agresif seperti memberontak.

Baca Juga  Tragedi Rempang, Kemana Nurani Petinggi Negri?

2. Pola asuh demokratis (Authoritative Parenting)
Pada pola asuh demokratis, kedudukan orangtua dan anak dianggap sejajar. Maksudnya, anak diberikan ruang untuk menyampaikan pendapatnya. Anak juga terlibat dalam pengambilan keputusan dengan berdiskusi bersama orangtua. Selain itu, orangtua dengan pola asuh demokratis memberi kebebasan anak mengeksplorasi, tetapi dengan standar dan batasan yang jelas.

Ciri-ciri pola asuh demokratis:
• Terbuka dan komunikatif, memberi penjelasan serta alasan atas larangan dan hukuman yang diberikan pada anak.
• Memberi kebebasan pada anak dengan batasan yang jelas. Orangtua dengan pola asuh demokratis mendukung anak mengeksplorasi sendiri serta mengembangkan kreativitas, tetapi masih dalam pengawasan.
• Fleksibel dan supportive.
• Menggabungkan kehangatan dan kendali.

Pola asuh demokratis sering ditemukan pada cara mengasuh orangtua modern. Orangtua dengan pola asuh ini bersikap rasional dan realistis terhadap kemampuan anaknya, seperti dengan tidak menaruh standar yang berlebihan atau memaksa anak melewati kemampuannya. Dampak yang mungkin terjadi pada anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis adalah sebagai berikut.

• Anak lebih percaya diri dan memiliki harga diri yang tinggi. Orangtua dengan pola asuh demokratis aktif melibatkan anak dalam berbagai hal. Ini membuat anak terbiasa dan merasa dirinya yakin.
• Bersikap mandiri dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Anak yang tumbuh dalam pola asuh demokratis akan memiliki kendali terhadap dirinya dan mampu bertanggung jawab dari keputusan yang ia buat.
• Pintar membangun hubungan dengan teman sebaya.
• Kooperatif, karena orangtua dengan pola asuh demokratis mengajarkan anak untuk menghargai pendapat orang lain, komunikatif serta melibatkan anak dalam mengambil keputusan.

3. Pola asuh permisif (Permissive Parenting)
Orangtua dengan pola asuh permisif cenderung memberikan kebebasan tanpa adanya batasan pada anak. Orangtua dengan pola asuh ini membiarkan anak mengeksplorasi dunianya sendiri, tetapi tidak mengawasi, berbeda dengan pola asuh demokratis yang juga memberikan kebebasan. Semua keinginan anak akan dipenuhi secara berlebihan oleh orangtua dengan pola asuh permisif.

Ciri-ciri pola asuh permisif:
• Memanjakan anak, menuruti semua kebutuhan dan keiinginan anak.
• Biasanya terlihat akrab seperti seorang teman, bukan orangtua.
• Memberi hadiah dengan tujuan untuk mengontrol perilaku anak.
• Kurang mengendalikan dan lebih kehangatan.

Tidak hanya orangtua yang menggunakan pola asuh ini. Nenek dan kakek juga menggunakan pola asuh permisif ketika bersama cucu-cucunya. Dengan maksud menunjukkan kasih sayang dan rasa cinta, tanpa tahu cara ini dapat memengaruhi perkembangan anak. Berikut dampak dari pola asuh permisif.

• Anak bersikap semena-mena karena kurangnya batasan dari orangtua.
• Sulit diatur dan kurang bertanggung jawab.
• Kurang disiplin dan sulit mengikuti aturan atau norma yang berlaku karena tidak terbiasa.
• Kurangnya motivasi untuk berprestasi disekolah. Umumnya, anak-anak memerlukan dorongan atau sebuah penghargaan untuk memotivasi dirinya berkembang. Namun, anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif sudah terbiasa mendapat penghargaan tanpa harus berusaha.

Baca Juga  Peran Hukum Perjanjian Dagang Regional dalam Sistem Perdagangan Internasional

4. Pola asuh pengabaian (Neglectful Parenting)
Neglectful parenting atau disebut juga uninvolved parenting adalah pola asuh pengabaian. Orangtua dengan pola asuh pengabaian tidak memenuhi kebutuhan anak akan sosial, emosional serta fisik. Orangtua kurang melibatkan dirinya dalam pengasuhan, sehingga anak tidak mendapatkan dukungan dan perhatian yang layak. Anak sering merasa diabaikan dan tidak dipedulikan oleh orang tua dengan pola asuh ini.

Ciri-ciri pola asuh pengabaian:
• Kurang responsif, orangtua dengan pola asuh pengabaian mungkin saja tidak memberikan arahan, bimbingan, dan dorongan yang layak pada anak.
• Kurang perhatian emosional dan dukungan emosional.
• Mengabaikan, tidak mengawasi ataupun memerdulikan kehidupan anak. Orangtua hanya fokus pada dirinya sendiri.
• Kurang kehangatan dan kurang mengendalikan.

Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini sering mengalami kesulitan dalam mengembangkan regulasi diri yang baik. Pola asuh ini dapat berdampak besar terhadap perkembangan psikologis, emosional, dan sosial anak. Anak memerlukan interaksi yang responsif dan positif dari lingkungan mereka agar dapat berkembang secara optimal. Namun, jika orangtua yang seharusnya menjadi sumber dukungan terdekat bagi anak, tidak memberikan perhatian dan respon yang dibutuhkan, bagaimana anak bisa mengembangkan kemampuan dan memahami emosinya. Berikut, dampak yang mungkin terjadi pada anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan pola asuh pengabaian.

• Terhambatnya kemampuan bersosial, karena tidak mempunyai role model untuk ditiru.
• Kurang percaya diri. Muncul karena anak merasa kurang dihargai atau dianggap tidak penting oleh orangtua mereka.
• Kesulitan membentuk ikatan emosional yang sehat.
• Gangguan perkembangan psikologis dan masalah perilaku, seperti krisis identitas dan perilaku agresif.

Pola asuh dapat memengaruhi keadaan psikologis anak yang pada akhirnya memengaruhi prestasi belajarnya disekolah. Dari keempat pola asuh di atas, dapat disimpulkan bahwa pola asuh demokratis memberikan dampak positif dan paling efektif untuk mengasuh anak. Pola asuh demokratis memberikan ruang pada anak untuk berkembang secara mandiri dan masih dalam pengawasan orangtua. Pola asuh yang tidak responsif atau pola asuh yang kurangnya keterlibatan orangtua, seperti pola asuh pengabaian, dapat menimbulkan dampak psikologis yang merugikan pada anak. Ketika anak tidak mendapat dukungan yang layak dari orangtuanya, ia mungkin merasa tidak dihargai, tidak percaya diri, bahkan kesulitan memahami identitas dirinya.
Kurangnya keterlibatan orangtua dapat menghambat perkembangan emosional dan sosial anak serta memengaruhi kemampuannya dalam belajar dan berkembang secara optimal. Oleh karena itu, orangtua harus memahami pentingnya memberikan dukungan yang memadai dan keterlibatan aktif dalam kehidupan anak-anak sehingga mereka dapat mencapai potensi penuh di berbagai aspek kehidupan.

Oleh: Aqiela Fadia Haya
Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala

Daftar Pustaka:
Santrock, J.W. 2002. Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Erlangga.
King, A. Laura. 2010. Psikologi Umum. Jakarta: Salemba Humanika.
Papalia, D.E., Olds, S. W., & Fieldman, R.D. (2009). Human Development (11th Ed). New York: The McGraw Hill Companies, Inc.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *