ITB Tawarkan Pinjol sebagai Alternatif Pembayaran UKT

JurnalPost.com – Keputusan ITB untuk menggunakan pinjaman online atau pinjol sebagai opsi pembayaran UKT menimbulkan kekhawatiran. Kekhawatiran tersebut mengenai potensi meningkatnya ketergantungan mahasiswa pada lembaga pinjaman online. Langkah ini memang bisa dianggap sebagai solusi sementara untuk memenuhi kewajiban keuangan, namun alternatif dengan menggunakan pinjaman online sebagai pembayaran UKT dapat menyebabkan keterikatan keuangan yang rumit. Mahasiswa yang sudah menggunakan alternatif ini akan tejebak dalam lingkaran utang dan menempatkan mereka dalam kondisi keuangan yang semakin rumit dan membingungkan.

Tidak hanya itu, dampak ketergantungan pada pinjaman online juga melibatkan ketidakpastian keuangan di masa depan. Seiring berjalannya waktu, bunga dan biaya tambahan yang mungkin terkait dengan pinjaman tersebut dapat mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini juga akan menambah beban finansial yang harus ditanggung oleh mahasiswa atau menimbulkan resiko yang tidak terduga bagi mahasiswa yang menggunakan jalur pinjaman online ini. Kemudian, tanggung jawab ITB sebagai lembaga pendidikan yang unggulan dipertanyakan terkait dengan penyediaan opsi pembayaran yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan nahasiswanya tanpa menciptakan resiko keuangan yang tidak terkendali. Oleh karena itu, beberapa pihak yang memiliki kepentingan dalam hal ini kemungkinan besar berpendapat bahwa menggunakan pinjaman online sebagai solusi pembayaran UKT memiliki dampak negatif pada stabilitas keuangan daripada memberikan manfaat jangka panjang bagi mahasiswa.

Memperkuat jerat ketergantungan pada pinjaman
Kebijakan penggunaan pinjamna online untuk pembayaran UKT menciptakan perubahan yang dapat memperkuat jerat ketergantungan mahasiswa terhadap pinjaman. Tidak hanya menjadi opsi alternatif pembayaran UKT, kebijakan ini melanggar amanat UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang menegaskan bahwa pemerintah dan perguruan tinggi wajib memberikan bantuan biaya pendidikan kepada mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi. Dengan menawarkan solusi berupa pinjaman, institusi pendidikan seakan melibatkan mahasiswa dalam kebijakan yang tidak sejalan dengan bantuan finansial kepada mahasiswa yang membutuhkan.

Baca Juga  Rumah Zakat Kembali Salurkan 100 Paket Berbagi Buka Puasa di Desa Binaan Jemur Wonosari

Selanjutnya, kebijakan pinjaman online sebagai Solusi pembayaran UKT tidak sejalan dengan semangat bantuan melainkan menghadirkan beban tambahan terhadap mahasiswa yang berjuang secara finansial. Mahasiswa yang memilih solusi alternatif ini, setiap pinjaman untuk cicilan 12 bulan dikenakan biaya bulanan platform 1,75% dan biaya persetujuan 3%. Kemudian, cicilan enam bulan dikenakan biaya bulanan platform 1,6% dan biaya persetujuan 3%. Mahasiswa akan diberikan denda dan sanki apabia tidak membayar angsuran tepat waktu. Faktor ini secara signifikan menambah kesulitan finansial mahasiswa sehingga menciptakan ketidaksetaraan yang akan bertentangan dengan tujuan inklusi dan kesetaraan akses pendidikan tinggi.

Menurunkan kredibilitas ITB
ITB yang menjadi salah satu pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia seharusnya memberikan contoh yang baik dalam menyelenggarakan pendidikan berkualitas. Dengan adanya kebijakan ini, menimbulkan perdebatan mengenai kualitas pendidikan yang diberikan ITB sehingga memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana ITB benar-benar memprioritaskan kepentingan dan kesejahteraan finansial mahasiswa dalam kebijakan pembayaran UKT yang dapat menimbulkan beban tembahan.

Penggunaan pinjaman online pada pembayaran UKT bisa saja mengurangi daya tarik dan kepercayaan khalayak kepada ITB. Masyarakat yang merupakan calon mahasiswa dan pemangku kepentingan lainnya mungkin meragukan komitmen ITB terhadap kesejahteraan mahasiswa dan keberlanjutan kualitas pendidikannya. Hal ini menimbulkan kerugian reputasi atau citra ITB sebagai institusi yang unggul dan berkomitmen terhadap prinsip-prinsip etika dan tanggung jawab sosial dalam dunia pendidikan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kebijakan pinajamn online sebagai opsi alternatif pembayaran UKT di ITB menimbulkan berbagai pandangan dan memiliki dampak negatif pada integritas nilai dan tujuan pendidikan tinggi. Kebijakan yang tidak sejalan dengan semangat inklusi dan kesetaraan akses pendidikan dapat menimbulkan keraguan terhadap komitmen ITB mengenai kesejahteraan dan pengembangan mahasiswa. Oleh karena itu, sebaiknya ITB tidak lagi menggunakan kebijakan penggunaan pinjaman online dalam pembayaran biaya pendidikan dan menggunakan solusi yang lebih sesuai dengan prinsip-prinsip etika dan tanggung jawab sosial. –

Baca Juga  tips menjadi cepat kaya di Tasikmalaya 2023

Oleh: Winda Lestari, Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *