Generasi Muda Sebagai Fondasi Relawan di Masyarakat

Tim relawan PRIMALI Berdaya dalam mempersiapkan penanaman pohon pepaya di Banksasuci, Tangerang. Sumber: Dokumentasi Pribadi PRIMALI Berdaya

JurnalPost.com – Indonesia memilki keberlimpahan sumber daya manusia (masyarakat) yang dapat dilihat dengan beranekaragamnya suku dan ras yang mendiami di Indonesia.  Dilansir dari sensus Badan Pusat Statistik (2023) penduduk Indonesia pertengahan 2023 mencapai 278,69 juta jiwa. Meningkatnya jumlah masyarakat ini pun tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan beberapa masalah seperti, kurangnya akses terhadap pangan, pendidikan, kesehatan dan lainnya dikarenakan terbatasnya kemampuan pemerintah untuk memenuhi segala permintaan masyarakat. Disisi lain, Indonesia pun memilki generasi muda yang banyak, berdasarkan sensus BPS (2023) per Februari 2023 generasi Z memimpin dalam hal komposisi penduduk dengan berjumlah 74,93 juta jiwa (27,94%) selain itu pun generasi milenial dan generasi X berturut – turut menjadi peringkat kedua dan ketiga dengan jumlah 69,38 juta jiwa (25,87%) dan 58,65 juta jiwa (21,88%).

Dengan banyaknya jumlah generasi muda ini menjadi potensi bagi Indonesia. Potensi ini disalurkan melalui kegiatan sukarelawan yang terorganisir. Menurut Linda & Lucas (2006) dalam buku “Sustaining the Motivation to Volunteer in Organizations”, sukarelawan organisasi dapat berkontribusi secara signifikan dalam membantu aktivitas pada masyarakat modern, baik berupa pada bencana maupun bukan bencana. Hal ini berkaitan dengan keterbatasannya kemampuan pemerintah dalam memenuhi segala permintaan masyarakat. Sekaligus melimpahnya generasi muda di Indonesia dapat membantu dalam memenuhi akses pangan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.

Relawan pun sejalan dengan konsep human security yang dimana dibutuhkannya pelibatan masyarakat untuk memenuhi keamanan yang berinti kepada manusia. Dengan maksud bahwa relawan dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kelangsungan hidup masyarakat.

Definisi, Tugas dan Manfaat Mengikuti Sukarelawan
Dalam kamus KBBI, sukarelawan adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela tanpa dipaksa atau diwajibkan.  Menurut The United Nations General Assembly Resolution yang diadopsi pada 5 Desember 2001 menyatakan bahwa, relawan adalah yang mengikuti kegiatan seperti gotong royong dan swadaya, pemberian layanan dan bentuk partisipasi masyarakat lainnya, dilakukan secara kehendak diri, untuk kepentingan masyarakat umum dan tidak mendapatkan imbalan uang sebagai faktor. Kerelawanan adalah bentuk dari keterlibatan masyarakat yang banyak memberikan manfaat berupa kesehatan fisik dan mental, menambah wawasan dan pengetahuan, dan menjadi nilai positif di masyarakat, adapun beberapa alasan para relawan ingin mengikuti program kerelawanan. Stukas dkk (2014) dalam “Motivations to Volunteer and Their Associations With Volunteers’ Well-Being”, mengatakan beberapa alasan untuk mengikuti kegiatan kerelawanan sebagai peningkatan harga diri, kesejahteraan, peran diri, keterhubungan sosial, dan kepercayaan sosial.

Menurut Muna’im (2020) dalam kajian “Relawan Tak Terjadi Terlupakan, Terjadi Terbutuhkan”, menyebutkan beberapa tugas yang dilakukan oleh relawan. Pertama, ikut membantu dalam menyalurkan sandang dan pangan. Kegiatan ini lazimnya dilakukan setelah terjadinya bencana alam yang melanda, dan diberikan kepada para korban. Kedua, ikut membereskan dan membangun infrastruktur disaat setelah bencana alam. Berbeda dengan setelah bencana, relawan ikut membereskan puing – puing yang nantinya ditata ulang kembali agar masyarakat dapat menggunakannya. Ketiga, ikut memberikan pelayanan jiwa seperti psikologi dan kesehatan, agar para korban dapat pulih dari trauma pasca bencana alam.

Baca Juga  Semakin Produktif, Lapas Tanjungpandan Panen hasil Pertanian Hidroponik

Beberapa tugas diatas merupakan relawan yang terjun langsung di tempat bencana alam. Relawan pun dapat disebut ketika situasi dan kondisi disaat normal dan tidak mencekam. Contohnya seperti ikut membantu membangun sebuah fasilitas masyarakat seperti masjid, pusat kesehatan, hingga sarana olahraga seperti lapangan bola, ikut berdonasi (fundraising volunteer) untuk korban bencana alam ataupun lainnya, membagi – bagi makanan kepada kaum dhuafa, pengemis, orang tidak mampu dan sebagainya.

Selain itu, program gerakan sosial untuk meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilihan umum pun dapat disebut sebagai relawan yakni relawan demokrasi. Relawan ini bermitra dengan KPU dalam menjalankan tugas sosialisasi dan pendidikan pemilih yang berbasis di kabupaten atau kota. Relawan tersebut ditunjukan untuk memperluas partisipasi politik dan kepercayaan di masyarakat, dengan pelibatan masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan hak pemilih untuk memberikan suaranya di pemilihan umum. Adapun basis relawan terhadap pemilih salah satunya pemilih pemula, dengan adanya sosialisasi dan pendidikan bagi pemilih pemula diharapkan dapat menimbang dengan baik untuk memilih para calon pemangku kebijakan.

Kembali menurut Mun’aim (2020), terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari mengikuti relawan; 1) menjalin persaudaraan dengan orang lain, relawan akan menjalin dengan masyarakat yang dibantu maupun dengan sesama relawan lainnya dengan begitu mengikuti relawan akan memperluas jaringan dan mendapatkan kawan baru; 2) menambah kebahagiaan, dengan membantu orang lain akan berdampak positif terhadap kegembiraan hati, memberi lebih banyak akan menambah senang pula perasaan hati. 3) mengembangkan soft skills seperti kerja sama tim, komunikasi, kepemimpinan, manajemen waktu, fleksibiltas dan lainnya, disisi lain soft skills ini dapat menjadi nilai tambah saat seseorang melamar pekerjaan.

Istilah Kerelawanan di Indonesia
Setiap orang Indonesia memiliki kebanggaan karena menjadi bagian warga bangsa Indonesia dan berkeinginan untuk terus bergerak maju bagi pembangunan di masa depan. Menurut Adha (2019) dalam “Advantageous of Volunteerism Values for Indonesian Community and Neighbourhoods”, saat berakhirnya Perang Dunia II, masyarakat Indonesia baru merasakan keterbukaan dengan konsep kerelawanan yang dibawa oleh bangsa lain. Adanya partisipasi oleh bangsa lain dalam hal kegiatan kerelawanan sangat membantu bagi kehidupan masyarakat untuk mengembangkan aktivitas.

Dijelaskan lebih dalam oleh Muryanti (2014) pada kajian “Revitalisasi Gotong Royong: Penguat Persaudaraan Masyarakat Muslim di Pedesaan”, kerelawanan di Indonesia dikenal dengan istilah Gotong Royong, yaitu bekerja bersama tanpa imbalan yang terbentuk atas nilai – nilai sosial, dan diikat dengan solidaritas masyarakat serta lazimnya ditemukan di pedesaan. Gotong Royong menjadi ciri khas dan identitas bangsa Indonesia serta menjadi pembeda dengan bangsa lainnya. Dalam sejarahnya Gotong Royong ­­­­mulai dilakukan sejak tahun 2000 SM dan diperkirakan hingga 1800-an, disaat bangsa – bangsa Eropa datang ke Indonesia. Adapun menurut sejarawan Sartono Kartodirjo gotong royong telah dilakukan pada abad ke- 10 yang tercatat dalam prasasti baru di era Mataram Kuno, pada era tersebut dibutuhkannya bantuan tenaga untuk membangun banyak candi dan bantuan tenaga pun mengalir dari bermacam golongan dari kota hingga desa seperti sudra, kawula (budak), waisya (petani dan pedagang), dan brahmana (agamawan).

Baca Juga  Parkir Liar yang Berdampak Pada Masyarakat

Motivasi Generasi Muda Mengikuti Sukarelawan
Menurut Mannheim (1952) dalam “The problem of generations”. generasi muda ialah kelompok heterogen yang berada dalam konteks historis dan sosiokultural yang sama, namun cenderung dicirikan oleh watak atau sifat bersama, mode perasaan, tindakan, atau kesadaran bersama. Generasi muda mengikuti sukarelawan sangat kompleks dan seiring waktu dapat berubah – ubah, Menurut Gage & Thapa (2012) dalam kajian “Volunteer Motivations and Constraints among College Students: Analysis of the Volunteer Function Inventory and Leisure Constraints Models”. Menyatakan bahwa terdapat sikap altruisme (kepedulian tinggi terhadap orang lain) menjadi motivasi pertama yang mengarahkan kaum muda untuk mengikuti sukarelawan, namun cenderung juga lebih bergantung kepada motivasi diri sendiri. Selain itu juga alih – alih altruisme, kaum muda cenderung untuk mendapatkan keterampilan (soft skills) baru yang membawa peluang untuk pekerjaan yang lebih baik.

Pada 2022, Indonesia dinobatkan sebagai negara dermawan di dunia oleh Charities Aid Foundation (CAF). Hal ini merupakan kelima kalinya pencapaian Indonesia bertengger nomor satu di dunia melihat pada total skor yang diraih sangat tinggi yakni 68%. Penilaiannya ditentukan dari dimensi memabntu orang asing (58%), donasi uang (84%), dan kerelawanan (63%). Atas survei tersebut, penulis mengajukan pertanyaan kepada empat orang anak muda (Sigar, Nida, Wahyudi, dan Ratu Afra) yang pernah mengikuti relawan. Penulis menanyakan melalui Whatsapp, tentang pengalaman responden yang mengikuti relawan, baik berupa bagi – bagi nasi ke jalan, mengajar di sekolah – sekolah, membina desa, membantu korban bencana alam, penyuluhan narkoba dan sebagainya.

Adapun pertanyaannya seperti, apakah yang memotivasi anda menjadi relawan?, harapan apa yang anda inginkan untuk relawan di Indonesia? dan seberapa penting peran relawan bagi masyarakat saat ini? Penulis mensimpulkan jawaban – jawaban responden dari tiga pertanyaan tersebut. Pertama, atas kesadaran diri untuk mengikuti relawan yang berlandaskan kepada kondisi dan nilai – nilai sosial untuk dapat bermanfaat dan menesejahterakan masyarakat. Kedua, harapannya senantiasa membutuhkan kepedulian kepada masyarakat yang berdasarkan tanggung jawab dan ketulusan serta meningkatkan keikutsertaan terhadap relawan sekaligus dapat memanfaatkan dalam mengembangkan soft skills bagi insan yang mengikutinya. Ketiga¸ penting untuk dapat membantu masyarakat dalam pemenuhan permintaan (fasilitas) masyarakat sekaligus meringankan keterbatasan dari pemerintah.

Dengan demikian, peran generasi muda sebagai penerus bangsa diharapkan terus dapat berkembang khususnya bagi dunia kerelawanan untuk senantiasa membantu masyarakat dan menjadi pelopor kebaikan di masyarakat.

Oleh: Muhamad Fikri Asy’ari dan Uyun Rizqi Fauziah
PRIMALI Berdaya dan Universitas Pendidikan Indonesia

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *