Budaya Tawuran Pelajar di Indonesia

Oleh: Dhea Salma Rihadatul Aisyah

JurnalPost.com – Beberapa hari terakhir, media ramai dengan realitas tawur yang terjadi antar pelajar SMA. Tawur ini bersifat fisik yang biasanya diakhiri dengan jatuhnya korban, baik luka-luka hingga hilangnya nyawa pelaku tawuran. Contohnya adalah tawur yang terjadi di flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur. Kejadian itu mengakibatkan tangan seorang pelajar putus terkena sabetan senjata tajam. (Detiknews.com/29/01/2024). Dari banyaknya peristiwa tawuran pelajar, tawuran bisa dikatakan sudah menjadi budaya yang dekat dengan pelajar. Tawur menjadi opsi untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. Tawur dapat terjadi di berbagai kalangan karena adanya kebiasaan individu yang jiwa ataupun pikirannya telah terkontaminasi dengan budaya tawur, mudah terpancing untuk melakukan tindakan yang bersifat destruktif. Bahkan hanya karena masalah sepele, pelaku tawur rela melakukan perusakan, pembakaran, hingga pembunuhan.

Selain sifat individu, rendahnya kualitas pendidikan pelajar Indonesia masih perlu diperbaiki untuk mengurangi hal-hal pemicu tawur terjadi. Pendidikan yang memadai, membantu pelajar untuk bisa berpikir secara rasional dan melihat kegiatan tawuran lebih banyak membawa dampak negatif. Kecerdasan emosional individu dapat menilai suatu kualitas pendidikan yang menyelesaikan suatu masalah menggunakan kekerasan yang berakibat destruktif. Dapat dilihat dari cara penyelesaian masalah menggunakan tawur sebenarnya tidak menyelesaikan masalah yang sesungguhnya tetapi hanya memuaskan hasil pemikiran jangka pendek.

Pendidikan seharusnya menjadi tempat yang mampu menumbuhkan sikap dalam mengambil keputusan yang lebih baik. Kurangnya pemahaman dampak negatif pelaku tawur juga menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh sistem pendidikan di Indonesia. Dampak negatif bukan hanya merusak fasilitas umum melainkan mampu merugikan para pelaku tawuran itu sendiri. Pendidikan menjadi salah satu lembaga yang harus mengambil tindak tegas terhadap kegiatan tawuran yang terjadi di masyarakat. Konsekuensi yang diberi pihak sekolah terhadap pelaku tawur setidaknya memberikan pemahaman dan ruang untuk pelajar berpikir. Tawuran telah menjadi budaya karena tidak adanya tindakan tegas dari pihak sekolah. Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan budi pekerti yang ada dalam kurikulum sekolah tampaknya belum sesuai dengan adanya perilaku pelajar yang tetap melakukan tawuran antar pelajar.

Baca Juga  Coldiac Bicara Sisi Lemah Laki-laki di Lagu Mendekat Menjauh

Kebiasaan individu pelaku tawur memiliki sikap yang mengerucut menghasilkan tindakan destruktif bukan hanya menjadi salah satu faktor terjadinya tawur. Melainkan, adanya pandangan bahwa geng tawuran dianggap keren dari kacamata pelajar. Pandangan tersebut mengatakan bahwa usia pelajar membutuhkan validasi akan dirinya yang mampu mempengaruhi pelajar dalam berpikir hingga bertindak. Pelajar memang waktu yang tepat untuk mencari tahu akan pembuktian diri dan menjelajahi semua rasa pertanyaan dalam diri. Validasi antar teman mengerucut pada rasa eksistensi terhadap diri sendiri yang ingin dipandang lebih baik oleh lingkungan. Menurut pandangan saya, pembuktian eksistensi yang dilakukan pelaku tawur sebagai pelajar tawur merupakan alasan terbesar adanya budaya tawur di Indonesia.

Hal ini menandakan perlunya evaluasi mendalam terhadap berbagai faktor pendorong terjadinya budaya tawur bagi pelajar. Akar yang dapat membantu mengurangi tawur antar pelajar perlunya perhatian khusus terhadap pendidikan Indonesia. Pentingnya pendidikan bukan hanya dalam memberikan pengetahuan, tetapi juga dalam membentuk karakter dan kemampuan berpikir. Pendidikan yang baik dapat membantu pelajar untuk membuat keputusan yang bijak dan melihat tawuran sebagai tindakan yang tidak membawa dampak positif. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan dalam sistem pendidikan untuk mengurangi potensi tawuran dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan positif pelajar.

Kondisi sosial ini telah meresahkan karena tidak adanya kesesuaian antara pelajar Indonesia dengan semboyan Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” yang seharusnya tercermin dalam karakter pelajar. Peran penting lingkungan keluarga sama pentingnya dengan lingkungan sekolah dalam membentuk karakter pelajar yang memiliki pemikiran rasional dan mengajarkan cara mengatasi konflik tanpa kekerasan sehingga sifat destruktif pada pelajar tidak membudayakan aksi tawur. Dengan memperbaiki sistem pendidikan, dan menciptakan lingkungan positif, kita dapat mengurangi budaya tawuran di kalangan pelajar. Pendidikan yang baik adalah kunci untuk menciptakan generasi muda yang cerdas, berpikir rasional, dan mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang positif. Semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga masyarakat, harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik bagi masa depan generasi penerus bangsa.

Baca Juga  Menyongsong Mimpi Indonesia | Jurnalpost

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *